top of page

Mengapa Perlu Seorang Praktisi Functional Medicine

 

Kita semua pasti punya pengalaman dengan sistem pelayanan medis konvensional. Dimanapun kita berada, sistem pelayanan medis yang berlaku selama ini prinsipnya sama: seorang pasien yang merasakan beberapa keluhan pergi ke dokter untuk mendapatkan jawaban, dokter kemudian bertanya tentang beberapa hal dan melakukan pemeriksaan fisik, setelah itu dokter memberi resep obat dan pasien menebusnya di apotek.

​

Skenario seperti ini kadang diperburuk dengan kualitas komunikasi dokter-pasien yang sangat rendah. Dokter tak banyak bicara pada pasien, sehingga pasien tak mendapat penjelasan tentang kondisi kesehatan yang dialami atau pasien justru tak paham dengan obat yang harus diminumnya.

​

Kenyataannya, dengan sistem pelayanan seperti ini, pasien seperti tak punya pilihan lain selain menuruti perkataan dokter, sehingga ketidakpahaman ini justru membuat kondisi pasien tak kunjung membaik. Tak jarang pasien kemudian merasa tak puas dan berganti-ganti dokter hanya demi menemukan jawaban memuaskan yang bisa memperbaiki kondisinya. Buruknya pengetahuan masyarakat tentang pelayanan medis menyebabkan mayoritas masyarakat berkesimpulan bahwa pelayanan medis konvensional adalah satu-satunya bentuk pelayanan medis terbaik yang ada di dunia ini.

 

Kita Punya Pilihan Lain

Functional Medicine merupakan paradigma baru pelayanan medis yang lahir karena melihat sisi buruk pelayanan medis konvensional. Di dalam Functional Medicine, pasien harus berperan aktif dalam penentuan rencana terapi yang akan dijalani, sehingga terapi akan sangat bersifat personalized, sangat individual menyesuaikan keinginan, kebutuhan dan kondisi perorangan pasien, sehingga keberhasilan terapi 80-90% akan ditentukan oleh pasien sendiri. Jadi, bagi anda yang tak puas dengan jawaban conventional medicine, anda punya pilihan lain yakni bekerjasama dengan praktisi functional medicine.

​

“Mengapa” Bukan “Apa”

Functional Medicine adalah ilmu kesehatan yang mendasarkan segala sesuatunya pada kata tanya ‘mengapa’. Ketika mendengar keluhan pasien, seorang praktisi Functional medicine akan berpikir:

​

“mengapa pasien ini sampai merasakan hal ini?”

​

“mengapa bisa terjadi keluhan seperti ini?”

​

Dengan menggunakan paradigma berpikir ‘mengapa’, dokter akan membuat rencana terapi dengan tujuan mengatasi akar penyebab masalah kesehatan pasien. Dokter tidak hanya mendasarkan rencana terapinya pada label diagnosa suatu penyakit tertentu.

​

Pendekatan tersebut berbeda dengan paradigma yang berlaku di dalam Conventional Medicine, dimana dokter mendasarkan rencana terapinya pada kata ‘apa’. Dokter kemudian akan memberikan terapi sesuai (apa) label diagnosa penyakitnya. Inilah yang menyebabkan terapi pada sistem medis konvensional tidak bersifat individual (personalized treatment) tetapi bersifat umum. Keseragaman terapi sesuai diagnose penyakit ini melupakan komponen penting dalam proses penyembuhan yakni, respon tubuh setiap manusia yang berbeda terhadap berbagai hal, termasuk obat. Hal ini menjawab pertanyaan masyarakat selama ini seperti:

​

“mengapa teman saya sembuh dari kanker dengan kemoterapi tapi saya justru makin lemah dengan kemo?”

​

“mengapa jerawat saya tak kunjung sembuh setelah perawatan di klinik kecantikan padahal teman saya wajahnya halus setelah perawatan di klinik yang sama?”

​

​

Functional Medicine Menangani Subjek Penderita Bukan Penyakitnya

Desain pelayanan medis konvensional sangat cocok diterapkan untuk kasus-kasus kegawatdaruratan medis seperti dehidrasi berat, kecelakaan atau kondisi penyakit kronis terminal (serangan jantung, gagal jantung, gagal ginjal, stroke, dll), namun sangat tidak pas digunakan untuk menangani keluhan-keluhan terkait penyakit kronis menahun (diabetes, arthritis/radang sendi, penyakit autoimun, penyakit jantung, kanker)

​

Kita ambil contoh kasus diabetes (penyakit metabolism gula darah):

​

Pasien diabetes yang ditangani dengan pelayanan medis konvensional kemungkinan besar akan mendapatkan beberapa jenis obat-obatan berbeda seperti:

  • Obat anti diabetes untuk menurunkan gula darahnya

  • Vitamin saraf untuk mengurangi rasa baal atau kesemutan di jari-jari tangan dan kakinya

  • Obat anti nyeri untuk mengurangi pegal-pegal di tubuhnya

  • Operasi pembersihan luka bila terdapat luka di bagian tubuhnya

  • Operasi amputasi bila luka tersebut telah mengalami gangrene

​

Sedangkan bila ditangani dengan prinsip Functional Medicine, pasien tersebut hanya perlu pergi ke satu dokter, praktisi FM, yang akan menilai:

  • Mengapa dia merasakan baal di jari-jari kaki dan tangannya? Hmm, ternyata karena ada kematian saraf.

  • Mengapa sampai ada kematian saraf perifer? Karena ada kelainan metabolism gula darah.

  • Mengapa sampai ada kelainan metabolism gula darah? Karena konsumsi kalori yang berlebihan dari gula refinasi.

  • Mengapa pasien ini sampai makan berlebihan? Karena dia mengalami tekanan psikologis cukup berat dalam hidupnya.

​

Jika akar permasalahan telah didapatkan, dokter akan membuat rencana terapi yang sesuai seperti:

  • Stop konsumsi gula dan karbohidrat refinasi

  • Puasa

  • Support tidur berkualitas

  • Tingkatkan aktivitas fisik

  • Suplementasi mikronutrien jika diperlukan

  • Atasi tekanan psikologis dengan MBSR (Mindfulness Based Stress Reduction)

​

Dapat dilihat dengan jelas perbedaan penanganan penyakit kronis dengan sistem konvensional dibandingkan fungsional. Functional medicine bekerja dari akarnya, memperbaiki seluruh sistem terkait sehingga pasien dapat benar-benar merasakan kondisi sehat yang nyata, berbeda dengan Conventional medicine yang mengatasi masalah hanya dengan menutupi gejalanya secara terbagi-bagi (tidak memperbaiki akar penyebabnya) sehingga pasien hanya merasa cukup baik (bersifat sementara) tanpa pernah merasa kembali benar-benar sehat.

​

Functional Medicine adalah Bentuk Pelayanan Medis Masa Depan

Kelemahan sistem pelayanan medis konvensional yang tak bersifat menyeluruh (holistic) namun terbagi-bagi (fragmented) yang pembagiannya didasarkan pada organ tubuh manusia, membuat sistem ini tak mampu mengejar ketinggalannya dalam penanganan penyakit kronis yang jumlahnya semakin meningkat. Di saat seperti ini, Functional Medicine muncul sebagai paradigm baru yang terbukti lebih mumpuni dalam penanganan penyakit kronis karena sifat pendekatannya yang holistic dan target terapinya yang merupakan individu manusia itu sendiri, bukan diagnose penyakitnya.

​

Semakin banyak kasus penyakit kronis dapat tertangani dengan pendekatan Functional Medicine. Sistem pelayanan medis yang baru ini terbukti mampu menghambat bahkan mengembalikan kondisi pasien penyakit kronis kembali sehat secara fisik dan psikis seperti sedia kala, sangat berbeda dengan pencapaian sistem pelayanan medis era lama (conventional medicine) dalam hal penanganan penyakit kronis.

​

Semakin banyak pula dokter konvensional berputar haluan kearah Functional Medicine karena melihat kenyataan di lapangan terkait penyakit kronis yang menyedihkan. Secara pribadi, dua tahun menjalankan praktek Functional Medicine telah cukup membuat saya yakin bahwa paradigma baru ini merupakan satu-satunya jalan keluar bagi mereka yang ingin terbebas dari keluhan-keluhan terkait penyakit kronis. Functional Medicine kedepannya menjadi satu-satunya sistem pelayanan medis yang paling tepat digunakan untuk memberantas penyakit kronis karena lebih efektif dan efisien dari segala sisi. Conventional Medicine tetap yang terbaik dalam menangani kondisi akut-emergency dan Functional Medicine akan berperan sebagai komplementernya dalam penanganan penyakit kronis. Dua bentuk sistem pelayanan medis ini seharusnya dapat berjalan beriringan, bersama-sama saling melengkapi mewujudkan sebuah kesatuan sistem pelayanan medis yang komprehensif.

Temukan solusi terbaik agar anda bebas dari segala keluhan dan raih hidup yang anda inginkan.
bottom of page